BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
4.1. Urgensi Guide of Parenting
Belum cukupnya media praktis yang membantu orangtua melakukan deteksi dini pada hambatan perkembangan anak mengharuskan langkah cepat untuk melakukan strategi baru dan inovatif bagaimana memenuhi hak anak berkebutuhan khusus. Berawal dari keterlambatan deteksi, akibat yang mungkin terjadi bisa sangat fatal. Seorang anak berkebutuhan khusus yang mengalami keterlambatan dalam proses deteksi akan berakibat gangguan perkembangan tersebut bertambah parah, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkannya. Selain sulit juga membutuhkan waktu yang lama, pendidikan anak berkebutuhan khusus juga akan mengalami keterlambatan. Resiko kematian anak bukan tidak mungkin terjadi, sedangkan di sisi lain potensi anak berkebutuhan khusus seharusnya bisa dikembangkan setara bahkan lebih baik daripada anak normal. Resiko-resiko buruk ini berakibat hanya karena terlambat dalam mendeteksi suatu hambatan perkembangan yang sebenarnya bisa dilakukan sedini mungkin oleh orangtua sendiri.
Melihat hubungan resiko buruk yang saling terkait dan bermuara pada satu sebab utama, yaitu kurang dini dalam melakukan proses deteksi, maka perlu disediakan sarana praktis bagi orangtua untuk belajar dan melakukan deteksi sedini mungkin pada perkembangan anak-anak mereka. Dan dalam hal ini penulis memberikan sarana praktis dan sederhana kepada orangtua melalui Guide of Parenting, sebuah buku sederhana namun bisa menyelamatkan anak-anak berkebutuhan khusus dari resiko terburuk yang bisa saja menimpa mereka.
Asumsi-asumsi di atas digambarkan dengan bagan di bawah ini:
Bagan di atas menggambarkan betapa pentingnya media Guide of Parenting sebagai salah satu penyelamat potensi anak berkebutuhan khusus. Dengan adanya Guide of Parenting ini diharapkan orangtua akan lebih mudah mempelajari dan memahami beberapa konsep hambatan pada anak berkebutuhan khusus yang sering terjadi, mulai dari konsep sampai bagaimana memberikan perlakuan dini. Penyajian Guide of Parenting yang kreatif dan inovatif memberikan suguhan media ilmiah dengan nuansa hiburan, sehingga secara “cary over effect” media ini sudah bisa diterima dengan baik.
4.2. Konsep Guide of Parenting
Konsep Guide of Parenting ini terbagi menjadi dua, yaitu konsep Ekstrinsik memuat bagaimana Guide of Parenting disajikan secara fisik. Sedangkan konsep Intrinsik yang memuat bagaimana isi atau muatan buku panduan ini.
4.2.1. Konsep Instrinsik
4.2.1.2. Bentuk Guide of Parenting; Guide of Parenting ini berbentuk satu eksemplar majalah mini yang telah rapi di cetak. Jumlah halaman diusahakan tidak terlalu tebal dan tipis. Berisi keterangan tertulis disertai gambar atau foto. Setiap keterangan jika memungkinkan disertai gambar atau foto untuk memperjelas, sebagai contoh: ciri-ciri anak yang mengalami Down Syndrom memiliki wajah mongoloid, maka di sampingnya dicantumkan foto anak yang benar-benar mengalami Down Syndrom. Hal ini untuk memberikan gambaran secara visual.
4.2.1.2. Ukuran Guide of Parenting; Ukuran Guide of Parenting ini dirancang tidak terlalu besar, supaya mudah dibawa. Ukuran berkisar antara 20 x 15 cm.
4.2.1.3. Warna Guide of Parenting; Guide of Parenting ini dicetak berwarna (bukan foto copy) supaya lebih menarik secara visual. Warna tulisan juga harus dipertimbangkan.
4.2.1.4. Tata Letak (Lay Out) Guide of Parenting; Tata letak meliputi bagaimana kombinasi tata letak tulisan, ukuran huruf, spasi dan letak gambar supaya menarik dan tersusun dengan sistematis, mudah dibaca dan dipahami.
4.2.2 Konsep Instrinsik Guide of Parenting
Konsep instrinsik dari Guide of Parenting ini merupakan materi apa yang akan dimuat dalam satu buku tersebut. Penulis menjadikan satu buku membahas satu macam hambatan. Di bawah ini akan diuraikan ruang lingkup masing-masing pokok bahasannya.
4.2.2.1. Definisi dan Konsep Hambatan; Berisi konsep dasar dari jenis gangguan atau hambatan terkait, definisi serta paradigma masyarakat pada gangguan tersebut. Konsep ini hendaknya bisa memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat, karena tidak jarang gangguan yang terjadi pada anak dikaitkan dengan pandangan-pandangan non-ilmiah, seperti contoh, epilepsi dipandang sebagai penyakit turunan, kutukan atau mungkin “kerasukan setan”. Paradigma inilah yang hendaknya bisa diluruskan melalui konsep dasar ini.
4.2.2.2. Faktor Penyebab Hambatan; Faktor penyebab terjadinya suatu hambatan bisa diuraikan secara sederhana namun lengkap. Terjadinya suatu hambatan bisa berasal dari faktor genetik, fisik, psikologis, sosial atau faktor yang lain.
4.2.2.3. Gejala Hambatan; Gejala hambatan meliputi tanda-tanda apa saja yang dialami oleh anak ketika mengalami gangguan tertentu, baik secara fisik, psikologis, kognitif, maupun sosial.
4.2.2.4. Penanganan Awal; Penanganan awal merupakan langkah-langkah apa saja yang mungkin bisa dilakukan oleh orang tua untuk menekan gejala supaya tidak berlanjut dan bertambah parah. Penanganan awal ini harus dijelaskan secara rinci dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga segera bisa dilakukan jika anak memiliki kecenderungan pada gejala-gejala yang telah disebutkan.
4.2.2.5. Tindak Lanjut; Pada bagian tindak lanjut ini orang tua disajikan langkah apa yang harus diambil ketika anak sudah terdeteksi mengalami gangguan atau hambatan tertentu. Hal ini untuk mencegah terjadinya keterlambatan penanganan yang bisa berakibat fatal.
ANALISIS DAN SINTESIS
4.1. Urgensi Guide of Parenting
Belum cukupnya media praktis yang membantu orangtua melakukan deteksi dini pada hambatan perkembangan anak mengharuskan langkah cepat untuk melakukan strategi baru dan inovatif bagaimana memenuhi hak anak berkebutuhan khusus. Berawal dari keterlambatan deteksi, akibat yang mungkin terjadi bisa sangat fatal. Seorang anak berkebutuhan khusus yang mengalami keterlambatan dalam proses deteksi akan berakibat gangguan perkembangan tersebut bertambah parah, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkannya. Selain sulit juga membutuhkan waktu yang lama, pendidikan anak berkebutuhan khusus juga akan mengalami keterlambatan. Resiko kematian anak bukan tidak mungkin terjadi, sedangkan di sisi lain potensi anak berkebutuhan khusus seharusnya bisa dikembangkan setara bahkan lebih baik daripada anak normal. Resiko-resiko buruk ini berakibat hanya karena terlambat dalam mendeteksi suatu hambatan perkembangan yang sebenarnya bisa dilakukan sedini mungkin oleh orangtua sendiri.
Melihat hubungan resiko buruk yang saling terkait dan bermuara pada satu sebab utama, yaitu kurang dini dalam melakukan proses deteksi, maka perlu disediakan sarana praktis bagi orangtua untuk belajar dan melakukan deteksi sedini mungkin pada perkembangan anak-anak mereka. Dan dalam hal ini penulis memberikan sarana praktis dan sederhana kepada orangtua melalui Guide of Parenting, sebuah buku sederhana namun bisa menyelamatkan anak-anak berkebutuhan khusus dari resiko terburuk yang bisa saja menimpa mereka.
Asumsi-asumsi di atas digambarkan dengan bagan di bawah ini:
Bagan di atas menggambarkan betapa pentingnya media Guide of Parenting sebagai salah satu penyelamat potensi anak berkebutuhan khusus. Dengan adanya Guide of Parenting ini diharapkan orangtua akan lebih mudah mempelajari dan memahami beberapa konsep hambatan pada anak berkebutuhan khusus yang sering terjadi, mulai dari konsep sampai bagaimana memberikan perlakuan dini. Penyajian Guide of Parenting yang kreatif dan inovatif memberikan suguhan media ilmiah dengan nuansa hiburan, sehingga secara “cary over effect” media ini sudah bisa diterima dengan baik.
4.2. Konsep Guide of Parenting
Konsep Guide of Parenting ini terbagi menjadi dua, yaitu konsep Ekstrinsik memuat bagaimana Guide of Parenting disajikan secara fisik. Sedangkan konsep Intrinsik yang memuat bagaimana isi atau muatan buku panduan ini.
4.2.1. Konsep Instrinsik
4.2.1.2. Bentuk Guide of Parenting; Guide of Parenting ini berbentuk satu eksemplar majalah mini yang telah rapi di cetak. Jumlah halaman diusahakan tidak terlalu tebal dan tipis. Berisi keterangan tertulis disertai gambar atau foto. Setiap keterangan jika memungkinkan disertai gambar atau foto untuk memperjelas, sebagai contoh: ciri-ciri anak yang mengalami Down Syndrom memiliki wajah mongoloid, maka di sampingnya dicantumkan foto anak yang benar-benar mengalami Down Syndrom. Hal ini untuk memberikan gambaran secara visual.
4.2.1.2. Ukuran Guide of Parenting; Ukuran Guide of Parenting ini dirancang tidak terlalu besar, supaya mudah dibawa. Ukuran berkisar antara 20 x 15 cm.
4.2.1.3. Warna Guide of Parenting; Guide of Parenting ini dicetak berwarna (bukan foto copy) supaya lebih menarik secara visual. Warna tulisan juga harus dipertimbangkan.
4.2.1.4. Tata Letak (Lay Out) Guide of Parenting; Tata letak meliputi bagaimana kombinasi tata letak tulisan, ukuran huruf, spasi dan letak gambar supaya menarik dan tersusun dengan sistematis, mudah dibaca dan dipahami.
4.2.2 Konsep Instrinsik Guide of Parenting
Konsep instrinsik dari Guide of Parenting ini merupakan materi apa yang akan dimuat dalam satu buku tersebut. Penulis menjadikan satu buku membahas satu macam hambatan. Di bawah ini akan diuraikan ruang lingkup masing-masing pokok bahasannya.
4.2.2.1. Definisi dan Konsep Hambatan; Berisi konsep dasar dari jenis gangguan atau hambatan terkait, definisi serta paradigma masyarakat pada gangguan tersebut. Konsep ini hendaknya bisa memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat, karena tidak jarang gangguan yang terjadi pada anak dikaitkan dengan pandangan-pandangan non-ilmiah, seperti contoh, epilepsi dipandang sebagai penyakit turunan, kutukan atau mungkin “kerasukan setan”. Paradigma inilah yang hendaknya bisa diluruskan melalui konsep dasar ini.
4.2.2.2. Faktor Penyebab Hambatan; Faktor penyebab terjadinya suatu hambatan bisa diuraikan secara sederhana namun lengkap. Terjadinya suatu hambatan bisa berasal dari faktor genetik, fisik, psikologis, sosial atau faktor yang lain.
4.2.2.3. Gejala Hambatan; Gejala hambatan meliputi tanda-tanda apa saja yang dialami oleh anak ketika mengalami gangguan tertentu, baik secara fisik, psikologis, kognitif, maupun sosial.
4.2.2.4. Penanganan Awal; Penanganan awal merupakan langkah-langkah apa saja yang mungkin bisa dilakukan oleh orang tua untuk menekan gejala supaya tidak berlanjut dan bertambah parah. Penanganan awal ini harus dijelaskan secara rinci dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga segera bisa dilakukan jika anak memiliki kecenderungan pada gejala-gejala yang telah disebutkan.
4.2.2.5. Tindak Lanjut; Pada bagian tindak lanjut ini orang tua disajikan langkah apa yang harus diambil ketika anak sudah terdeteksi mengalami gangguan atau hambatan tertentu. Hal ini untuk mencegah terjadinya keterlambatan penanganan yang bisa berakibat fatal.
23.11 |
Category: |
0
komentar

Comments (0)