2.2. Deteksi Dini Hambatan Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus
Ada dua cara pokok untuk melakukan proses deteksi dini atau mengidentifikasi perkembangan pada anak berkebutuhan khusus. “to identify” artinya mengenal, yang dimaksud mengenal dalam proses identifikasi dalam hal ini adalah menemukan gejala-gejala yang tampak pada penampilan dan perilaku anak dalam memperkirakan penyebab masalah sampai pada pertolongan apa yang dapat dilakukan.
Dalam Guide of Parenting Books ini, proses identifikasi bisa digolongkan ke dalam deteksi non-tes karena media ini menyediakan informasi yang memungkinkan orang tua melakukan deteksi sendiri. Adapun cara-cara untuk melakukan identifikasi adalah sebagai berikut:
2.2.1. Tes
Tes merupakan salah satu alat yang dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi masalah yang dialami anak. Bentuk tes ini dapat berupa pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau dikerjakan anak. Tugas-tugas yang harus dikerjakan biasanya dibatasi oleh waktu. Tes sangat banyak macamnya, namun dalam pembahasannya macam-macam tes tersebut tidak akan diuraikan oleh penulis, karena kurang relevan dengan program pembuatan Guide of Parenting ini.
2.2.2. Non-Tes
2.2.2.1. Obsevasi; Observasi adalah dengan sengaja dan sistematis mengamati perilaku anak. Proses identifikasi dengan cara ini sangat sederhana, karena hanya menggunakan pancaindra. Tetapi pada proses ini harus ada faktor kesengajaan untuk dapat dipertanggungjawabkan hasilnya secara ilmiah, dan juga sistematis, sebab kalau tidak sistematis akan sulit dikerjakan. Oleh karena itu bila guru ingin menggunakan teknik ini harus banyak melakukan latihan terlebih dahulu agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan.
2.2.2.2. Wawancara: Wawancara atau interview menurut Sutrisno Hadi (1989) adalah sebuah proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan sendiri suaranya. Dalam wawancara selalu ada dua pihak yang satu dalam kedudukan pencari informasi dan yang lain sebagai pemberi informasi.
2.2.2.3. Angket; Metode angket dibagi menjadi dua golongan: (1) angket langsung, yaitu daftar pertanyaan yang dikirimkan langsung kepada orang yang dimintai pendapat, keyakinannya atau diminta menceritakan tentang keadaan dirinya; dan (2) angket tidak langsung, yaitu daftar pertanyaan yang dikirimkan untuk menanyakan keadaan orang lain.
2.2.2.4. Meneliti hasil pekerjaan anak; Meneliti pekerjaan anak dapat dilaksanakan pada hasil-hasil pekerjaan dari semua kegiatan yang dilakukan. Dengan melihat hasil pekerjaan anak maka akan dapat ditentukan apakah seorang anak mengalami masalah atau kesulitan belajar atau tidak. Hal yang dapat dikerjakan dengan jalan meneliti hasil pelaksanaan tugas-tugas. Dari penelitian itu dapat diketahui aspek-aspek yang lemah dari anak baik mengenai pengetahuannya, cara-cara membuat pekerjaan, kerajinan dan kerapian. Dari hasil meneliti hasil pekerjaan anak akan dapat diketahui dimana letak masalah atau kelemahan anak dan sekaligus dapat diketahui dimana letak kelebihan- kelebihan anak.
2.2.2.5. Metode Tugas kelompok; Metode ini memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bekerja bersama-sama. Melalui tugas kelompok guru atau orang tua akan dapat melihat sejauh mana penguasaan dan pengetahuan anak terhadap tugas yang diberikan. Apakah anak dapat menggunakan pengetahuannya atau tidak, hal ini terlihat dari kesanggupannya menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru.
Untuk mengetahui bahwa anak kita mengalami hambatan atau keterlambatan perkembangan mudah saja, yaitu dengan melakukan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak (DDTK). Dengan melakukan deteksi dini akan diketahui apakah seorang mengalami keterlambatan atau tidak. Deteksi dini dilakukan berdasarkan usia anak dan usia kecakapan anak. Jika ada kesenjangan antara usia anak dan usia kecakapan anak, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh seorang profesional.
Hal yang harus diperiksakan dari perkembangan anak tersebut, antara lain: (1) Kemampuan motorik kasar (gerakan kasar), (2) Kemampuan motorik halus (gerakan halus), (3) Pengamatan (persepsi), (4) Bicara, dan (5) Sosialisasi
Kelima aspek ini harus menjadi bagian pemeriksaan deteksi dini pada anak. Dari gambaran yang diperoleh, akan diketahui apakah anak memang berada di "zona aman”, perkembangan sesuai usianya. Apakah anak mengalami adanya satu aspek keterlambatan, atau bahkan beberapa aspek keterlambatan. Hal ini akan menentukan dalam cara penanganannya. Apakah dapat distimulasi saja atau sudah harus diintervensi lebih jauh. Jika hanya memerlukan penanganan stimulasi, dapat dilakukan oleh orang tua di rumah, namun jika sudah memerlukan intervensi yang melakukan penanganan sudah harus seorang profesional, seperti dokter, psikolog, pedagog ataupun terapis. (http://newspaper.pikiran-rakyat.com)
Adapun untuk melakukan deteksi pada masing-masing gangguan atau hambatan, setiap jenis hambatan akan memerlukan langkah-langkah yang berbeda. Langkah deteksi akan dijadikan sebagai salah satu muatan materi di dalam Guide of Parenting ini.

Comments (0)