BIODATA PENULIS

1. Nama Lengkap : Darminah
2. TTL : Batang, 19 Juni 1987
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. NIM : 1550406017
5. Semester : IV(Empat)
6. Jurusan : Psikologi
7. Fakultas : Fakultas Ilmu Pendidikan
8. Alamat Rumah : Krangko’an RT 2 RW 2 No 25 Ngaliyan Limpung Batang 51271
9. Alamat di Semarang : Gang Waru Kos Ummu Hani’, Sekaran G.Pati
10. Telepon/HP : 085693916217
11. Email : mi2n_ceria@yahoo.co.id
12. Pelatihan yang pernah diikuti
 Pelatihan dasar kepemimpinan BEM FT 2006
 Pelatihan kepemimpinan menengah BEMKM UNNES 2007
 Pelatihan kepemimpinan islam CAME FIP 2006
 Pelatihan kepemimpinan Islam UKKI UNNES 2006
13. Pengalaman organisasi
 Came FIP 2006
 Fummi FIP 2007-Sekarang
 Dynamic Piskologi 2008
 DPM KM UNNES 2009
14. Karya Tulis yang pernah dibuat
 Animasi wayang: media pembelajaran moral pada anak – KKTM 2008
 Minat menulis dosen kependidikan dan non kependidikan UNNES – Penelitian Institusional 2008
BAB V
PENUTUP
5.1. Simpulan
5.1.1. Guide of Parenting merupakan buku pedoman praktis yang memuat bagaimana melakukan deteksi awal pada hambatan perkembangan anak serta cara penanganan awal yang bisa dilakukan orangtua. Guide of Parenting ini akan disusun berdasarkan format majalah atau buku bergambar, dimana setiap satu buku memuat satu jenis hambatan perkembangan anak. Buku-buku kecil ini akan disusun berdasarkan tiga konsep utama, yaitu ilmiah, edukatif, dan hiburan.
5.1.2. Penyusunan Guide of Parenting ini dilakukan oleh beberapa pihak yang memiliki kapasitas masing-masing antara lain Psikolog, Terapis, Dokter anak dan jurnalis (ahli media) dan dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan yang pendistribusiannya akan dilakukan oleh Dinas Pendidikan sendiri dibantu oleh lembaga lain yang telah mendapat rekomendasi Dinas Pendidikan seperti BKKBN, HIMPSI, LSM atau lembaga lain yang relevan dan memperoleh legalisasi hukum dari Dinas Pendidikan.
5.2. Rekomendasi
Berdasarkan simpulan di atas, maka penulis memberikan beberapa rekomendasi sebagai berikut:
5.2.1. Bagi Lembaga Pemerintah
5.2.1.1. Melakukan monitoring serta pendampingan berkala kepada lembaga pemerintah yang menangani langsung ke masyarakat untuk memberikan sosialisasi terkait dengan pemahaman kebutuhan anak berkebutuhan khusus
5.2.1.2. Memaksimalkan peran lembaga pemerintah di dalam pemberian pelayanan anak berkebutuhan khusus, baik secara moral maupun material
5.2.2. Bagi Ilmuwan dan Tenaga Ahli
5.2.2.1. Melakukan kajian teoritis berkaitan dengan materi ilmiah pada anak berkebutuhan khusus sehingga bisa disajikan dalam bentuk yang lebih menarik dan mudah dipahami
5.2.2.2. Mempertimbangkan Guide of Parenting sebagai salah media bantu dalam meningkatkan pemahaman masyarakat pada anak berkebutuhan khusus
4.3. Penyusunan Guide of Parenting
Untuk menyusun produk jadi sebuah Guide of Parenting dibutuhkan beberapa tenaga ahli dan ilmuwan. Di bawah ini penulis akan menyajikan beberapa pihak yang memiliki wewenang untuk terlibat di dalam penyusunan Guide of Parenting sebagai media deteksi dini anak berkebutuhan khusus yang memiliki fungsi edukasi, hiburan serta ilmiah.
4.3.1. Psikolog atau Ilmuwan Psikologi
Peran Psikolog atau Ilmuwan Psikologi merupakan peran yang penting dalam penyusunan Guide of Parenting ini, dengan alasan bahwa secara teoritik dan konsep mereka lebih menguasai. Di sinilah harapannya nilai-nilai akademis dan ilmiah tetap menjadi prioritas yang utama, apapun bentuk penyajiannya. Artinya produk jadinya diharapkan tidak sekedar hasil opini “non-ilmiah” yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenaran dan kearutannya.
4.3.2. Terapis
Terapis merupakan pihak yang lebih memahami bagaimana memberikan perlakuan di lapangan ketika menemukan anak dengan gangguan tertentu, minimal penanganan dini yang praktis dan sederhana. Dengan menyajikan langkah praktis penanganan awal, diharapkan orang tua atau masyarakat bisa melakukannya sendiri sebagai langkah awal sebelum ditindaklanjuti oleh tenaga medis atau terapis yang lebih menguasai.
4.4.3. Dokter spesialis anak
Guide of Parenting ini dikhususkan untuk hambatan perkembangan anak atau anak berkebutuhan khusus, sehingga keberadaan dan peran serta dokter spesialis anak sangat penting. Sebuah gangguan sangat mungkin berkaitan dengan fungsi medis atau fisik anak, dalam hal ini tentu saja dibutuhkan penanganan secara medis pula.
4.4.4. Jurnalis
Peran jurnalis tidak berada pada kepentingan secara ilmiah, namun lebih kepada perancang penyajian Guide of Parenting yang memiliki nilai hiburan tanpa mengabaikan nilai ilmiah dan edukasi. Penggunaan bahasa yang diharapkan lebih dipahami masyarakat umum inilah yang menjadi salah satu wewenang seorang jurnalis di samping unsur penyajian lain seperti lay out, gambar dan sebagainya.
Selain pihak-pihak di atas, tidak menutup kemungkinan dan akan menjadi snagat mungkin ada pihak lain yang terlibat di dalam pembuatan Guide of Parenting ini. Akan tetapi paling tidak keempat pihak di atas harus ada selama pembuatan dan penyusunan Guide of Parenting.
4.5. Pendistribusian Guide of Parenting
Setelah menjadi sebuah produk, Guide of Parenting sudah pasti harus didistribusikan ke masyarakat. Di bawah beberapa pihak yang hendaknya bertanggungjawab dalam mendistribusikan Guide of Parenting:
4.5.1. Dinas Pendidikan
Keberadaan Dinas Pendidikan ini untuk kepentingan legalisasi produk, seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Guide of Parenting ini menjunjung tinggi nilai keilmiahan serta memiliki fungsi sebagai media edukasi, sehingga keberadaan Dinas Pendidikan sangat dibutuhkan guna memperkokoh fungsi produk tersebut.
4.5.2. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
BKKBN merupakan salah satu lembaga pemerintah yang bergerak di bidang sosial khususnya berkaitan dengan kesejahteraan keluarga. Lembaga ini direkomendasikan sebagai salah satu distributor karena perannya yang strategis untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, sementara Guide of Parenting.juga memiliki fungsi dalam menumbuhkan pemahaman keluarga pada anak berkebutuhan khusus. Sehingga hal ini saling berkaitan dan diharapkan bisa memaksimalkan fungsinya.

4.5.3. Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI)
Merupakan satu-satunya organisasi yang menghimpun psikolog dan ilmuwan psikologi se-Indonesia yang bersifat mandiri dan dijiwai oleh Kode Etik Psikologi (AD/ART HIMPSI Bab I; Pasal 1).
4.5.4. Lembaga Independen atau LSM yang relevan
Lembaga independen atau LSM lain yang memainkan peran dalam melakukan pengenalan deteksi dini pada anak berkebutuhan khusus. Lembaga inilah yang biasanya akan lebih paham kondisi sosial masyarakat di daerah tertentu, sehingga penerimaan masyarakatpun bisa diasumsikan positif.
BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
4.1. Urgensi Guide of Parenting
Belum cukupnya media praktis yang membantu orangtua melakukan deteksi dini pada hambatan perkembangan anak mengharuskan langkah cepat untuk melakukan strategi baru dan inovatif bagaimana memenuhi hak anak berkebutuhan khusus. Berawal dari keterlambatan deteksi, akibat yang mungkin terjadi bisa sangat fatal. Seorang anak berkebutuhan khusus yang mengalami keterlambatan dalam proses deteksi akan berakibat gangguan perkembangan tersebut bertambah parah, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkannya. Selain sulit juga membutuhkan waktu yang lama, pendidikan anak berkebutuhan khusus juga akan mengalami keterlambatan. Resiko kematian anak bukan tidak mungkin terjadi, sedangkan di sisi lain potensi anak berkebutuhan khusus seharusnya bisa dikembangkan setara bahkan lebih baik daripada anak normal. Resiko-resiko buruk ini berakibat hanya karena terlambat dalam mendeteksi suatu hambatan perkembangan yang sebenarnya bisa dilakukan sedini mungkin oleh orangtua sendiri.
Melihat hubungan resiko buruk yang saling terkait dan bermuara pada satu sebab utama, yaitu kurang dini dalam melakukan proses deteksi, maka perlu disediakan sarana praktis bagi orangtua untuk belajar dan melakukan deteksi sedini mungkin pada perkembangan anak-anak mereka. Dan dalam hal ini penulis memberikan sarana praktis dan sederhana kepada orangtua melalui Guide of Parenting, sebuah buku sederhana namun bisa menyelamatkan anak-anak berkebutuhan khusus dari resiko terburuk yang bisa saja menimpa mereka.

Asumsi-asumsi di atas digambarkan dengan bagan di bawah ini:












Bagan di atas menggambarkan betapa pentingnya media Guide of Parenting sebagai salah satu penyelamat potensi anak berkebutuhan khusus. Dengan adanya Guide of Parenting ini diharapkan orangtua akan lebih mudah mempelajari dan memahami beberapa konsep hambatan pada anak berkebutuhan khusus yang sering terjadi, mulai dari konsep sampai bagaimana memberikan perlakuan dini. Penyajian Guide of Parenting yang kreatif dan inovatif memberikan suguhan media ilmiah dengan nuansa hiburan, sehingga secara “cary over effect” media ini sudah bisa diterima dengan baik.
4.2. Konsep Guide of Parenting
Konsep Guide of Parenting ini terbagi menjadi dua, yaitu konsep Ekstrinsik memuat bagaimana Guide of Parenting disajikan secara fisik. Sedangkan konsep Intrinsik yang memuat bagaimana isi atau muatan buku panduan ini.
4.2.1. Konsep Instrinsik
4.2.1.2. Bentuk Guide of Parenting; Guide of Parenting ini berbentuk satu eksemplar majalah mini yang telah rapi di cetak. Jumlah halaman diusahakan tidak terlalu tebal dan tipis. Berisi keterangan tertulis disertai gambar atau foto. Setiap keterangan jika memungkinkan disertai gambar atau foto untuk memperjelas, sebagai contoh: ciri-ciri anak yang mengalami Down Syndrom memiliki wajah mongoloid, maka di sampingnya dicantumkan foto anak yang benar-benar mengalami Down Syndrom. Hal ini untuk memberikan gambaran secara visual.
4.2.1.2. Ukuran Guide of Parenting; Ukuran Guide of Parenting ini dirancang tidak terlalu besar, supaya mudah dibawa. Ukuran berkisar antara 20 x 15 cm.
4.2.1.3. Warna Guide of Parenting; Guide of Parenting ini dicetak berwarna (bukan foto copy) supaya lebih menarik secara visual. Warna tulisan juga harus dipertimbangkan.
4.2.1.4. Tata Letak (Lay Out) Guide of Parenting; Tata letak meliputi bagaimana kombinasi tata letak tulisan, ukuran huruf, spasi dan letak gambar supaya menarik dan tersusun dengan sistematis, mudah dibaca dan dipahami.
4.2.2 Konsep Instrinsik Guide of Parenting
Konsep instrinsik dari Guide of Parenting ini merupakan materi apa yang akan dimuat dalam satu buku tersebut. Penulis menjadikan satu buku membahas satu macam hambatan. Di bawah ini akan diuraikan ruang lingkup masing-masing pokok bahasannya.
4.2.2.1. Definisi dan Konsep Hambatan; Berisi konsep dasar dari jenis gangguan atau hambatan terkait, definisi serta paradigma masyarakat pada gangguan tersebut. Konsep ini hendaknya bisa memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat, karena tidak jarang gangguan yang terjadi pada anak dikaitkan dengan pandangan-pandangan non-ilmiah, seperti contoh, epilepsi dipandang sebagai penyakit turunan, kutukan atau mungkin “kerasukan setan”. Paradigma inilah yang hendaknya bisa diluruskan melalui konsep dasar ini.
4.2.2.2. Faktor Penyebab Hambatan; Faktor penyebab terjadinya suatu hambatan bisa diuraikan secara sederhana namun lengkap. Terjadinya suatu hambatan bisa berasal dari faktor genetik, fisik, psikologis, sosial atau faktor yang lain.
4.2.2.3. Gejala Hambatan; Gejala hambatan meliputi tanda-tanda apa saja yang dialami oleh anak ketika mengalami gangguan tertentu, baik secara fisik, psikologis, kognitif, maupun sosial.
4.2.2.4. Penanganan Awal; Penanganan awal merupakan langkah-langkah apa saja yang mungkin bisa dilakukan oleh orang tua untuk menekan gejala supaya tidak berlanjut dan bertambah parah. Penanganan awal ini harus dijelaskan secara rinci dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga segera bisa dilakukan jika anak memiliki kecenderungan pada gejala-gejala yang telah disebutkan.
4.2.2.5. Tindak Lanjut; Pada bagian tindak lanjut ini orang tua disajikan langkah apa yang harus diambil ketika anak sudah terdeteksi mengalami gangguan atau hambatan tertentu. Hal ini untuk mencegah terjadinya keterlambatan penanganan yang bisa berakibat fatal.
BAB III
METODE PENULISAN
3.1. Pendekatan Penulisan
Penulisan karya tulis ini menggunakan pendekatan deskriptif berdasarkan kajian kepustakaan. Pemilihan pendekatan ini diasumsikan dapat memberikan alternatif untuk meningkatkan kepekaan sosial pada masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus, sehingga anak yang memiliki kebutuhan khusus atau yang mengalami keterbelakangan mental bisa lebih optimal dalam memperoleh pelayanan di keluarga maupun masyarakat, dan pada akhirnya mampu memperoleh pelayanan pendidikan, baik formal maupun nonformal. Dalam pendeskripsian tersebut, penulis merujuk pada pustaka-pustaka yang relevan dengan permasalahan yang diungkap.
3.2. Sasaran Penulisan
Sasaran penulisan karya tulis ini adalah deskripsi mengenai “Guide of Parenting” dan konsep penyusunan sampai pendistribusian Guide of Parenting serta deskripsi mengenai urgensi Guide of Parenting dalam mensosialisasikan konsep anak berkebutuhan khusus.
3.3. Sumber Kajian
Penulis menggunakan metode studi pustaka dalam membahas permasalahan yang diangkat dalam karya tulis ini. Sumber kajian yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini antara lain pustaka-pustaka yang relevan dengan topik permasalahan dalam karya tulis ini, surat kabar, hasil penelitian, dan perspektif para ahli dari situs-situs internet.



3.4. Prosedur Penulisan
Langkah-langkah dalam penulisan karya tulis ini sesuai dengan prosedur penulisan karya ilmiah sebagaimana yang diungkapkan dalam Djuharie (2001:51), langkah-langkah penulisan karya tulis adalah sebagai berikut:
3.4.1. Menentukan atau memilih tema/topik karangan
3.4.2. Menentukan tujuan penulisan
3.4.3. Menyusun kerangka tulisan
3.4.4. Mengumpulkan bahan tulisan
3.4.5. Mengembangkan kerangka tulisan
2.2. Deteksi Dini Hambatan Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus
Ada dua cara pokok untuk melakukan proses deteksi dini atau mengidentifikasi perkembangan pada anak berkebutuhan khusus. “to identify” artinya mengenal, yang dimaksud mengenal dalam proses identifikasi dalam hal ini adalah menemukan gejala-gejala yang tampak pada penampilan dan perilaku anak dalam memperkirakan penyebab masalah sampai pada pertolongan apa yang dapat dilakukan.
Dalam Guide of Parenting Books ini, proses identifikasi bisa digolongkan ke dalam deteksi non-tes karena media ini menyediakan informasi yang memungkinkan orang tua melakukan deteksi sendiri. Adapun cara-cara untuk melakukan identifikasi adalah sebagai berikut:
2.2.1. Tes
Tes merupakan salah satu alat yang dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi masalah yang dialami anak. Bentuk tes ini dapat berupa pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab atau dikerjakan anak. Tugas-tugas yang harus dikerjakan biasanya dibatasi oleh waktu. Tes sangat banyak macamnya, namun dalam pembahasannya macam-macam tes tersebut tidak akan diuraikan oleh penulis, karena kurang relevan dengan program pembuatan Guide of Parenting ini.
2.2.2. Non-Tes
2.2.2.1. Obsevasi; Observasi adalah dengan sengaja dan sistematis mengamati perilaku anak. Proses identifikasi dengan cara ini sangat sederhana, karena hanya menggunakan pancaindra. Tetapi pada proses ini harus ada faktor kesengajaan untuk dapat dipertanggungjawabkan hasilnya secara ilmiah, dan juga sistematis, sebab kalau tidak sistematis akan sulit dikerjakan. Oleh karena itu bila guru ingin menggunakan teknik ini harus banyak melakukan latihan terlebih dahulu agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan.
2.2.2.2. Wawancara: Wawancara atau interview menurut Sutrisno Hadi (1989) adalah sebuah proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan sendiri suaranya. Dalam wawancara selalu ada dua pihak yang satu dalam kedudukan pencari informasi dan yang lain sebagai pemberi informasi.
2.2.2.3. Angket; Metode angket dibagi menjadi dua golongan: (1) angket langsung, yaitu daftar pertanyaan yang dikirimkan langsung kepada orang yang dimintai pendapat, keyakinannya atau diminta menceritakan tentang keadaan dirinya; dan (2) angket tidak langsung, yaitu daftar pertanyaan yang dikirimkan untuk menanyakan keadaan orang lain.
2.2.2.4. Meneliti hasil pekerjaan anak; Meneliti pekerjaan anak dapat dilaksanakan pada hasil-hasil pekerjaan dari semua kegiatan yang dilakukan. Dengan melihat hasil pekerjaan anak maka akan dapat ditentukan apakah seorang anak mengalami masalah atau kesulitan belajar atau tidak. Hal yang dapat dikerjakan dengan jalan meneliti hasil pelaksanaan tugas-tugas. Dari penelitian itu dapat diketahui aspek-aspek yang lemah dari anak baik mengenai pengetahuannya, cara-cara membuat pekerjaan, kerajinan dan kerapian. Dari hasil meneliti hasil pekerjaan anak akan dapat diketahui dimana letak masalah atau kelemahan anak dan sekaligus dapat diketahui dimana letak kelebihan- kelebihan anak.
2.2.2.5. Metode Tugas kelompok; Metode ini memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bekerja bersama-sama. Melalui tugas kelompok guru atau orang tua akan dapat melihat sejauh mana penguasaan dan pengetahuan anak terhadap tugas yang diberikan. Apakah anak dapat menggunakan pengetahuannya atau tidak, hal ini terlihat dari kesanggupannya menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru.
Untuk mengetahui bahwa anak kita mengalami hambatan atau keterlambatan perkembangan mudah saja, yaitu dengan melakukan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak (DDTK). Dengan melakukan deteksi dini akan diketahui apakah seorang mengalami keterlambatan atau tidak. Deteksi dini dilakukan berdasarkan usia anak dan usia kecakapan anak. Jika ada kesenjangan antara usia anak dan usia kecakapan anak, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh seorang profesional.
Hal yang harus diperiksakan dari perkembangan anak tersebut, antara lain: (1) Kemampuan motorik kasar (gerakan kasar), (2) Kemampuan motorik halus (gerakan halus), (3) Pengamatan (persepsi), (4) Bicara, dan (5) Sosialisasi
Kelima aspek ini harus menjadi bagian pemeriksaan deteksi dini pada anak. Dari gambaran yang diperoleh, akan diketahui apakah anak memang berada di "zona aman”, perkembangan sesuai usianya. Apakah anak mengalami adanya satu aspek keterlambatan, atau bahkan beberapa aspek keterlambatan. Hal ini akan menentukan dalam cara penanganannya. Apakah dapat distimulasi saja atau sudah harus diintervensi lebih jauh. Jika hanya memerlukan penanganan stimulasi, dapat dilakukan oleh orang tua di rumah, namun jika sudah memerlukan intervensi yang melakukan penanganan sudah harus seorang profesional, seperti dokter, psikolog, pedagog ataupun terapis. (http://newspaper.pikiran-rakyat.com)
Adapun untuk melakukan deteksi pada masing-masing gangguan atau hambatan, setiap jenis hambatan akan memerlukan langkah-langkah yang berbeda. Langkah deteksi akan dijadikan sebagai salah satu muatan materi di dalam Guide of Parenting ini.
BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1. Hakikat Anak Berkebutuhan Khusus
Berdasarkan batasan para ahli, di bawah ini dikemukakan bahwa anak yang tergolong Luar Biasa atau memiliki kebutuhan khusus adalah sebagai berikut:
(Suran & Rizzo, 1979) dalam Frieda; 2000, Anak yang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka yang secara fisik, psikologis, kognitif, atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan-tujuan/kebutuhan dan potensinya secara maksimal, meliputi mereka yang tuli, buta, mempunyai gangguan bicara, cacat tubuh, retardasi mental, gangguan emosional. Juga anak-anak yang berbakat dengan inteligensi yang tinggi, dapat dikategorikan sebagai anak khusus/luar biasa, karena memerlukan penanganan yang terlatih dari tenaga professional
Siswa berkebutuhan khusus adalah mereka yang memerlukan pendidikan khusus dan pelayanan terkait, jika mereka menyadari akan potensi penuh kemanusiaan mereka. Pendidikan khusus diperlukan karena mereka tampak berbeda dari siswa pada umumnya dalam satu atau lebih hal berikut: mereka mungkin memiliki keterbelakangan mental, ketidakmampuan belajar atau gangguan atensi, gangguan emosi atau perilaku, hambatan fisik, hambatan berkomunikasi, autism, traumatic brain injury, hambatan pendengaran, hambatan penglihatan, atau special gifs or talent. Hallahan dan Kauffman: 2006)
Seorang anak dianggap berkelainan bila memerlukan persyaratan pendidikan yang berbeda dari rata-rata anak normal, dan untuk dapat belajar secara efektif memerlukan program, pelayanan, fasilitas dan materi khusus. (Gearheart: 1981)
Anak berkebutuhan khusus menurut Heward (www.wordpres.com) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Anak dengan kebutuhan khusus (special needs children) dapat diartikan secara sederhana sebagai anak yang lambat (slow) atau mangalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya.
Bagaimanapun, fakta yang tidak boleh dilupakan adalah karakteristik-karakteristik terpenting dari anak luar biasa adalah, kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (Hallan & Kauffman, 2006). Berkaitan dengan label kekhususan yang sering dikenakan pada seseorang, maka perlu dipahami perbedaan istilah-istilah yang bisa salah diinterpretasikan yaitu: “Impairment”, “Disability” dan “Handicaped”
2.2.1. Impairment (kerusakan)
Impairment biasanya dikaitkan dengan kondisi medis atau organis, adanya penyakit atau kerusakan dari suatu jaringan. Misalnya, kekurangan oksigen pada waktu lahir dapat menyebabkan kerusakan otak atau gangguan neurologis, yang bisa menjadikan anak menderita kelumpuhan otak (cerebral palsy). Kelainan kromosom yang menyebabkan Sindroma Down atau kerusakan syaraf pendengaran yang mengkibatkan ketulian.
2.2.2. Disability (kekhususan)
Disability merupakan konsekuensi fungsional dari kerusakan bagian tubuh. Atau kondisi yang menggambarkan adanya disfungsi atau berkurangnya suatu fungsi yang secara objektif dapat diukur/dilihat, karena adanya kehilangan /kelainan dari bagian tubuh/organ seseorang. Selain itu disability juga diartikan sebagai ketidakmampuan dalam melakukan sesuatu atau berkurangnya kapasitas untuk melakukan kegiatan/beraksi dalam cara tertentu (Hallahan & Kauffaman, 2006). Misalnya, tidak adanya tangan, kelumpuhan pada bagian tertentu dari tubuh, membuat seseorang tidak bisa jalan tanpa kruk atau kursi roda. Akan tetapi, bukan berarti menjadi handicap dalam membaca.
2.2.3. Handicap (ketidakmampuan)
Handicap merupakan konsekuensi sosial atau lingkungan dari kekhususan, ketika masalah/akibat dari kerusakan (impaired) berinteraksi dengan lingkungan/ tuntutan fungsional yang dibebankan pada seorang anak berkebutuhan khusus, pada situasi tertentu.
1.5. Bidang Penulisan
Penulisan gagasan tertulis ini termasuk dalam bidang pendidikan yaitu konsep Guide of Parenting sebagai salah satu media edukasi bagi masyarakat dalam ruang lingkup pemahaman pada hambatan perkembangan anak, dan urgensi Guide of Parenting dalam memperkenalkan konsep hambatan perkembangan anak serta pengenalan dan penanganan sejak dini.
Jika di masa depan media yang tersedia masih sama seperti sekarang, bukan tidak mungkin pemahaman terhadap anak berkebutuhan akan menjadi hal yang tabu atau hilang. Sehingga potensi-potensi besar yang anak miliki akan terabaikan karena banyak orangtua tidak memahami apa sebenarnya yang harus mereka lakukan dan anak buthkan.
Untuk itu, diperlukan strategi lain dalam mempromosikan dan mensosialisasikan konsep hambatan perkembangan anak dengan bentuk dan konsep lain yang lebih menarik, terjangkau dan memungkinkan bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Melihat hal yang demikian, penulis mengajukan sebuah program sosialisasi melalui media cetak berupa buku saku atau panduan praktis yang kemudian disebut dengan istilah Guide of Parenting sebagai salah satu media alternatif dalam melakukan proses deteksi dini pada anak berkebutuhan khusus.
Dengan adanya Guide of Parenting ini, penulis berharap bisa membantu orangtua untuk lebih mengenali, memahami, dan memperlakukan anak berkebutuhan khusus sesuai dengan kebutuhan anak dalam waktu yang sedini mungkin.


























1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang diangkat dalam karya tulis ini yaitu:
1.2.1. Bagaimana konsep Guide of Parenting?
1.2.2. Bagaimana konsep penyusunan, pendistribusian dan sosialisasi Guide of Parenting kepada masyarakat?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam karya tulis ini yaitu:
1.3.1. Mendeskripsikan konsep Guide of Parenting
1.3.2. Menguraikan konsep penyusunan, pendistribusian, dan sosialisasi Guide of Parenting kepada masyarakat
1.4. Manfaat Penulisan
1.4.1. Bagi Lembaga Pemerintah
1.4.1.1. Menjadi gagasan program penanganan terhadap lemahnya pemahaman masyarakat pada anak berkebutuhan khusus
1.4.1.2. Menjadi referensi dalam upaya pelayanan masyarakat melalui media yang menarik dan inovatif
1.4.2. Bagi Ilmuwan dan Tenaga Ahli
1.4.2.1. Menjadi referensi dalam memperkenalkan disiplin ilmu terutama yang berkaitan dengan hambatan perkembangan anak sejak dini kepada masyarakat
1.4.2.2. Membantu Ilmuwan dan Tenaga Ahli dalam mengembangkan metode sosialisasi kepada masyarakat terutama dalam bidang hambatan perkembangan anak
Jumlah anak cacat usia sekolah antara 5-18 tahun di seluruh tanah air yang belum terjangkau pendidikan khusus diperkirakan mencapai ribuan bahkan ratusan ribu akibat keterbatasan sekolah dan guru layanan khusus bagi penyandang cacat. Data Susenas tahun 2003 menyebutkan jumlah penyandang cacat sebanyak 3.170.160 orang dan 21,42 persen di antaranya adalah penyandang cacat usia sekolah antara 5-18 tahun. (ttp://kbi.gemari.or.id /beritadetail.php?id=4693)
ISSE (Indonesian Society for Special Needs Education), salah satu lembaga yang memfokuskan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, menyajikan data bahwa jumlah anak usia sekolah dan berkebutuhan khusus di Indonesia mencapai 2,6 juta lebih. Dari jumlah ini, yang masuk sekolah hanya 48.000 atau 1,83%, sebanyak 98%, sisanya belum terlayani. (http://www.ypha. or.id/information.php)
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dalam Peresmian Renovasi Gedung Sekolah Luar Biasa Tunadaksa Yayasan Pembinaan Anak Cacat Jakarta menyebutkan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus, salah satunya anak-anak cacat, membutuhkan perhatian dari berbagai pihak. Seluruh lembaga, baik pemerintah maupun non pemerintah, harus ikut memperhatikan keberlangsungan hidup anak-anak tersebut. Pemerintah harus terus memberikan dorongan kepada pihak swasta ataupun perseorangan untuk ambil bagian dalam pembentukan mental anak-anak tersebut menjadi manusia. (http://cpddokter.com)
Direktur Mahkota Bunda, Vivi Imelda S.Ss, menganjurkan, agar orangtua mengenali kondisi anaknya secara mendalam termasuk gejala-gejala autisme. Sebab, seberapa cepat penanganan penyandang autis akan menjadi lebih baik terutama pada masa-masa perkembangan otak yaitu satu hingga lima tahun. “Sayangnya, di Cirebon deteksi dini orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus masih kurang dan seringkali terlambat dalam penanganannya karena anak sudah berusia diatas lima tahun,” katanya.
Therapy Leader Mahkota Bunda, Een Aeniah S.Psi. mengatakan “Anak autis jangan menjadi beban apalagi sampai disembunyikan, yang perlu dilakukan orang tua adalah bagaimana melakukan interaksi sebanyak-banyaknya. Sehingga, kemampuan anak untuk fokus menjadi semakin terlatih, sebab anak autis memang dikenal sulit untuk fokus dan berkonsentrasi” (http://www. radarcirebon.com)
Fenomena meningkatnya jumlah anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia, terutama anak-anak dengan spectrum autis (autistic spectrum disorder) dan anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan umum lainnya, yaitu keterlambatan bicara, gangguan belajar, gangguan perilaku (hiperaktif dan hipoaktif), down syndrome, cerebral palsy, dan sebagainya menimbulkan keprihatinan yang mendalam dari sejumlah profesional medis, psikologi, orangtua dan para pemerhati lainnya akan keterbatasan sumber informasi mengenai penanganan masalah anak yang berkebutuhan khusus. (http://forum.tabloidnova.com)
Riau Online, 2004 menyeebutkan, Peminat Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah bagi orang cacat masih minim sehingga jumlah siswa pada sekolah yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota hanya beberapa orang. Hal ini disebabkan keberadaan sekolah kurang diketahui oleh masyarakat karena minimnya sosialisasi Dinas Pendidikan daerah setempat.
Kasubdin Pendidikan Luar Biasa (PLB) Disdik Riau Drs Rustam mengatakan dalam sebuah artikel yang sama “Kultur masyarakat Melayu juga mempengaruhi SLB. Karena anak cacat dianggap aib bagi keluarga sehingga tidak di sekolahkan bahkan hanya jadi penghuni rumah saja"
Rendahnya kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan SLB serta terbatasnya jumlah SLB sepertinya menjadi hal yang berkorelasi positif. Untuk itu diperlukan satu program yang intensif berkonsetrasi kepada pelayanan pendidikan kepada anak-anak tersebut.
Rendahnya kesadaran masyarakat tersebut bisa dikarenakan memang masyarakat tidak tahu apa yang terjadi pada anak-anak mereka. Media yang ada sampai saat ini belum bisa memberikan fasilitas yang memadai kepada masyarakat untuk memahami lebih dalam gangguan-gangguan pada perkembangan anak.
Sampai saat ini, media yang ada berupa buku cetak, layanan konsultasi di majalah, internet/on line, buku panduan (seperti modul atau diktat) atau layanan-layanan internet yang mengupas seputar hambatan perkembangan anak. Layanan yang ada tersebut ternyata belum mampu terdistribusikan secara merata kepada masyarakat luas terutama masyarakat menengah ke bawah karena fasilitas yang belum memadai.
Berdasarkan pengamatan penulis, media yang membahas masalah hambatan perkembangan anak selama ini masih berupa buku-buku teks yang sangat bermuatan ilmiah. Media-media ilmiah tersebut sulit dipahami oleh masyarakat awam untuk kepentingan praktis. Sebagai contoh penulis menganalisis sebuah buku teks yang mengupas masalah ADHD (Attention Deficit Hyperaactiv Disorder) yang ditulis oleh Robb Flanagen. Buku tersebut mengupas tuntas hambatan anak yaitu gangguan hiperaktif dan atensi (perhatian), mulai dari konsep, sejarah munculnya ADHD, mitos, gejala, macam-macam penanganan, jenis terapi dan beberapa hal lain yang bebicara tentang ADHD. Akan tetapi, media tersebut penulis nilai sangat sulit dipahami oleh orang awam, selain penyajian dalam bentuk bahasa yang terlalu ilmiah, bentuk buku juga kurang menarik.
RINGKASAN
Farikha Wahyu Lestari. Road to Inclusive Education untuk Menyiapkan Pendidikan Inklusi bagi Anak Berkebutuhan Khusus (Tuna Netra) Tingkat SMP dan SMA. Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa. Universitas Negeri Semarang. Dosen Pembimbing : Sunawan S.Pd, M.Si. 26 halaman.
Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan perkembangan diri individu serta sebagai tonggak pembangunan bangsa dan negara. Oleh karena itu negara menjamin hak setiap warga negara dalam memperoleh pendidikan dalam UUD 1945 (amandemen) pasal 31 ayat 1. Pasal tersebut menerangkan bahwa seluruh warga negara mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan termasuk anak berkebutuhan khusus (tunanetra). Akan tetapi dari sekian banyak siswa berkebutuhan khusus di Indonesia hanya sejumlah 5% yang mendapatkan pendidikan. Alasannya adalah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus jumlahnya masih sangat terbatas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut pemerintah membentuk suatu pendidikan inklusi. Model pendidikan inklusi merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan (Fahmi : 2008). Hambatan-hambatan yang dimaksud adalah keterbatasan fisik yang dimiliki oleh peserta didik. Akan tetapi pendidikan inklusi masih belum berjalan dengan baik, masih menimbulkan eksklusivitas, guru sekolah reguler masih belum mampu untuk menangani siswa berkebutuhan khusus, serta kurangnya fasilitas yang dimiliki guna menunjang terlaksananya pendidikan inklusi. Permasalahan-permasalahan tersebut muncul karena kurangnya kesiapan untuk melaksanakan pendidikan inklusi. Berdasarkan pada latar belakang tersebut, maka rumusan masalah yang diajukan dalam karya tulis ilmiah ini adalah : mengapa perlu dilaksanakan Road to Inclusive Education dan bagaimanakah rencana pelaksanaan program tersebut. Sedangkan tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui alasan perlunya dilaksanakan Road to Inclusive Education serta mengetahui tentang cara pelaksanaan program Road to Inclusive Education. Telaah pustaka yang digunakan antara lain adalah : pengertian pendidikan inklusi, landasan yuridis pendidikan inklusi, model pendidikan inklusi, pengertian anak berkebutuhan khusus(tuna netra), klasifikasi anak tuna netra, kondisi psikis anak tuna netra,dan prinsip pembelajaran anak tuna netra.karya tulis ini menggunakan model pendekatan deskriptif, dengan sasaran penulisan bentuk dari Road to Inclusive Education, dengan sumber penulisan dari kepustakaan kepustakaan yang terkait dan hasil penelusuran internet. Road to Inclusive Education merupakan sebuah upaya untuk menyiapkan pendidikan inklusi, yaitu dengan menyiapkan diri peserta didik dan kompetensi guru. Road to Inclusive Education bersifat preventif. Road to Inclusive Education berfungsi untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi siswa, empati, kerja sama, serta peningkatan kompetensi mengajar. Road to Inclusive Education terdiri dari 3 kegiatan utama yaitu : regkesus, perkemahan inklusi, dan FAG. Regkesus dan perkemahan inklusi merupakan kegiatan yang berorientasi pada siswa. Sedangkan FAG lebih berorientasi pada guru. Pada kegiatan regkesus terdiri dari 3 tahap yaitu : apakah kamu tahu, kenalan yuk,dan apa hasilnya. Sedangkan dalam kegiatan perkemahan inklusi terdiri dari 3 tahap yaitu : pembentukan kelompok, mencari jejak, pensi dan pembubaran.

Kata Kunci : Road to Inclusive Education, pendidikan inklusi, anak berkebutuhan khusus (tuna netra).
ABSTRAK

Lukman. Gender Cards: Sebagai Teknik Pembelajaran Sex Education Untuk Anak. Karya Tulis Ilmiah. 2009. Pembimbing : Heri Tri Lukman BS, SP.d. seleksi mahasiswa berprestasi Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang.2009

Pendidikan seks untuk anak dulu mungkin dianggap tabu. Seks menjadi rahasia orang dewasa dalam waktu cukup lama. Sementara itu, anak-anak mengobati rasa ingin tahu meraka lewat sumber-sumber tak bertanggung jawab : stensilan, film porno, dan mitos-mitos yang salah tentang seks yang tak jelas siapa penggagasnya. Akhirnya, para orang tua pun terheran-heran ketika terjadi ledakan masalah seks dikalangan anak-anak dan remaja.
Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong anak-anak untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar. Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak ( dalam Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991).
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan. Pemilihan pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara cermat dan jelas mengenai konsep dan gejala-gejala tertentu pada objek kajian. Dalam karya tulis ini penulis berusaha memberikan informasi mengenai “Gender Cards: Sebagai Teknik Pembelajaran Sex Education Untuk Anak”
Beberapa hal yang dapat disimpulkan penulis dala penyusunan “Gender Cards: Sebuah Teknik Pembelajaran Sex Education untuk anak, antara lain:
(1) Gender Cards sebagai sebuah teknik pembelajaran berdasarkan kajian analitis mengenai pendidikan seks yang tepat bagi anak usia 4-5 tahun.
(2)Gender Cards memberikan sebuah strategi pembelajaran sex education pad anak sesuai dengan tingkat pemahaman dan umur anak. Yaitu anak usia 4-5 tahun untuk memberikan pemahaman mengenai pendidikan seks yang benar pada anak. (3)Gender Cards mengintegrasikan kartu bergambar objek visual disekitar peserta didik, papan temple, dan kemapuan kognitif siswa dalam memahami arti gambar-gambar.

Kata kunci : Gender Cards, teknik pembelajaran, sex education